Tuesday, 29 September 2009

back to rutinitas

setelah hari raya idul fitri "minal aidzin wal faidzin" saatnya kembali pada rutinitas. berdasarkan informasi dari ketua dpw iv bahwasannya akan diadakan acara pra muswil di UMM Malang, tuk setiap institusi moohon ditunggu undangannya.

Wednesday, 6 May 2009

POPMASEPI Tidak Diakui DIKTI

DIKTI tidak mengakui POPMASEPI di daftar organisasi IOM, Saatnya segala lapisan dan generasi bersatu memperjuangkan organisasi dan aset bangsa . bagaimanakah kelangsungan POPMASEPI berikutny??

Apakah kinerja dan perjuangan kawan-kawan POPMASEPI harus menghadapi situasi seperti ini?
POPMASEPI berdiri dan eksis tidak terlepas dari perjuangan panjang para deklarator dan kader-kader POPMASEPI, mungkin itu yang bisa memotivasi kawan-kawan semua agar tetap eksis berjuang di kancah kegiatan POPMASEPI.
POPMASEPI Jaya!!!!

Sunday, 22 March 2009

Hasil LKMM di UNRAM

Hasil Kegiatan

LKMM

LKMM (Latihan Kepemimpinan Manejerial Mahasiswa) DPW IV POPMASEPI dalam pelaksanaannya dilaksanakan di LPMP (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan) Universitas Mataram, hari Kamis – Jumat tanggal 27-28 November 2008. Tujuan dari LKMM ini yaitu : (1) membangun wawasan intelektual kader POPMASEPI dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; (2) menumbubuhkan kecintaan mahasiswa terhadap pertanian; (3) meningkatkan kerjasama antara elemen masyarakat (stake holder) dengan pemerintah setempat dalam usaha mewujudkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan melalui penyuluhan pertanian dalam rangka mengembangkan pertanian; (4) membangun konsolidasi regional untuk mendukung tercapainya pertanian berkelanjutan; (5) membangun jiwa kepemimpinan yang bijaksana terhadap lingkungan pada mahasiswa; (6) salah satu forum dialogis untuk meningkatkan nilai intelektual; (7) salah satu acuan bagi strategi pengembangan pertanian pemerintah daerah setempat.

Dalam LKMM ini peserta merupakan pengurus DPW IV POPMASEPI dan delegasi dari masing-masing insitusi. Delegasi institusi yang hadir yaitu dari Universitas Mataram, Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, Universitas Jember, Universitas Trunojoyo sdan Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam LKMM ini setiap institusi wajib membuat makalah dengan tema ”Potensi Pengembangan Bisnis Pertanian dalam Pembangunan Daerah” . Makalah ini selanjutnya akan dipresentasikan per masing-masing institusi.

Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan FGD (Forum Group Discusion). Pada forum ini, para peserta kegiatan LKMM dibagi menjadi lima kelompok. Acara ini merupakan simulasi sidang yang mengambil tema ”Kesulitan Penyuluhan Pertanian dalam Penerapan Teknologi pada Petani”. Di sini dibahas faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan penyuluhan pertanian dalam penerapan teknologi pada petani.

Dari kelompok satu menyampaikan permasalahan Petani sulit menerima teknologi dari penyuluh dengan alasan:

· Faktor adat istiadat/ turun temurun/ kebiasaan

· Penyuluh belum dapat membuktikan secara nyata terhadap teknologi yang disampaikan oleh penyuluh

· Ketakutan petani terhadap resiko yang dihadapi (gagal panen)

Dari kelompok dua menyampaikan permasalahan:

· Masalah biaya (teknologi yang ditawarkan mahal)

· Kurang menariknya teknologi

Dari kelompok tiga menyampaikan permasalahan:

· Peranan pemerintah harus disinkronkan terhadap lembaga pendidikan, penelitian, penyuluh dan petani

Dari kelompok empat menyampaikan permasalahan:

· Proses adopsi inovasi dari penyuluh yang tidak sampai kepada masyarakat (petani) karena kurangnya partisipasi dari masyarakat.

Dari kelompok lima menyampaikan permasalahan:

· Tidak ada keberlanjutan teknologi

Forum menentukan mana saja permasalahan yang akan dibahas selanjutnya. Kemudian dari kesepakatan forum didapatkan dua permasalahan yaitu:

  1. Dari kelompok satu

Penyuluh belum dapat membuktikan secara nyata terhadap teknologi yang disampaikan oleh penyuluh.

  1. Dari kelompok dua

Masalah biaya (teknologi yang ditawarkan mahal) dan kurang menariknya teknologi.

Selanjutnya forum membahas solusi untuk setiap permasalahan yang diajukan oleh tiap kelompok. Dari pembahasan yang dilakukan oleh forum didapatkan solusi:

1. a. Harus ada pembuktian secara konkret (diperlukan lahan percobaan)

b. Meningkatkan kualitas SDM (ada pelatihan terhadap tenaga penyuluh)

c. Harus ada keikutsertaan dari petani untuk terjun ke lokasi secara langsung

d. Ada budidaya langsung yang dilakukan di lapangan

2. a. Biaya teknologi baru relatif mahal dan kurang menariknya teknologi yang diinformasikan kepada petani sehingga teknologi di anggap tidak perlu.

b. Memberikan teknologi yang sesuai dengan kemampuan petani

c. Menggunakan koperasi sebagai sarana untuk membantu meminjamkan alat

d. Informasi penyuluhan/ peningkatan SDM

e. Terobosan teknologi yang murah, tepat guna dan efisien

f. Membentuk perkumpulan para petani untuk membeli alat

g. Melibatkan lembaga keuangan untuk menunjang semua teknologi terkait

h. Ada jaminan dari DEPTAN (misalnya sertifikasi)

i. Praktek secara langsung di lapang

Dalam FGD peserta dilatih untuk memahami situasi sidang, melatih cara berpikir kritis dan dinamis serta bagaimana melatih jiwa kepemimpinan.

Wednesday, 18 March 2009

selamat dan sukses atas gawe POPMASEPI DPW IV Reboisasi mangrove di Bali

salam profesi...

dengan mengucap syukur akhirnya sukses juga program kerja POPMASEPI DPW IV yang bertempat di Universitas Udayana Bali
acara yang dimulai dari tanggal 12-16 maret 2009 yang dihadiri oleh Pengurus DPW IV dan DPP
adapun kegiatannya:
1. Seminar REgional tentang mangrove
2. penanaman Mangrove
3. yang tidak kelewatan yaitu fieldtrip namun berbeda dengan fieldtrip yg selama ini dilakukan oleh POPMASEPI, kali ini fieldtripnya tracking di kawasan subak jadi berguna banget untuk keilmuan kita sebagai mahasiswa pertanian.

progres kegiatan:
hadirnya 2 institusi yang selama ini vakum:
1. Universitas Islam Malang
2. Universitas TRibuana Tungga dewi Malang

dalam acara tersebut juga diadakan:
1. Evaluasi kepengurusan DPW IV
2. Sharing dengan perwakilan DPP untuk kemajuan POPMASEPI

Sukses n terimakasih buat HIMAGRI Universitas Udayana

Sunday, 1 March 2009

go to BALI

salam profesi

setelah LKMM di UNRAM maka tibalah DPW IV punya gawe lagi taggal 13 maret di UDAYANA dalam acara penanaman mangrove.

so join smua ya kader2 POPMASEPI juga para pengurus DPW IV.
buat panitia semangggggat ya....
chayoooo

Sunday, 12 October 2008

Prospek pertanian Organik

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan �Back to Nature� telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.

Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.

Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.

Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.

Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002

No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)

1. Australia dan Oceania 7,70
2. Eropa 4,20
3. Amerika Latin 3,70
4. Amerika Utar 1,30
5. Asia 0,09
6. Afrika 0,06

Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.

Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.

Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.

Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik

No. Kategori Komoditi

1. Tanaman Pangan Padi
2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
5. Peternakan Susu, telur dan daging

Friday, 10 October 2008

go to LKMM in UNRAM

salam profesi

sesuai dengan instruksi dr DPP setiap DPW harus mengadakan LKMM sebelum padma ksatria,
untuk DPW IV sendiri diadakan di Universitas Mataram pada tanggal 26 november 2008

maka setiap institusi harap mempersiapkan kader-kadernya pada LKMM mendatang.